Kota Yang Menelan Namanya Sendiri | Juara 1 Cipta Cerpen

                     Karya: M. Yudha Saputro

Angin pagi datang seperti tamu yang lupa tujuan. Dingin, tapi membawa sesuatu yang
samar. Aroma logam, debu, dan kenangan yang nyaris punah. Dari jendela toko tuanya
yang berdebu, Wafi menatap bayangannya sendiri. Huruf-huruf di kaca telah pudar,
meninggalkan bekas samar seperti luka yang menolak sembuh.
Kota ini, pikirnya, perlahan menelan dirinya sendiri. Nama jalan memudar di papan petunjuk,
nomor rumah lenyap, bahkan surat kabar berhenti mencantumkan tanggal. Semua seperti
setuju untuk melupakan sesuatu atau seseorang.
Di pergelangan tangan Wafi tergantung gelang ingatan, benda kecil dari logam tipis yang
dulunya bisa memunculkan namanya setiap kali disentuh. Kini hanya kilau dingin tanpa
huruf. Ia menatapnya lama, lalu berbisik pelan, “Mungkin sudah saatnya aku lupa juga.”
Langit tampak abu-abu, bukan karena hujan. Lebih seperti debu dari hal-hal yang dulu
punya arti.
——
Orang-orang di jalan berjalan seperti barisan bayangan. Mereka tahu caranya berbicara, tapi
tak tahu lagi kepada siapa. Di pasar, penjual dan pembeli bertukar pandang tanpa suara.
Semua tampak sibuk mempertahankan rutinitas, tanpa sadar rutinitas itu sudah kehilangan
nama. Kota ini masih hidup, tapi seperti hidup di luar dirinya sendiri. Wafi mulai menulis
nama-nama di dinding rumahnya, mencoba menahan sesuatu agar tidak hanyut dalam arus
kelupaan.
“Nama adalah jangkar, Tanpanya laut waktu akan menelan semuanya.” Tulisnya
Namun setiap pagi, tulisan itu lenyap. Entah karena angin, atau karena kota punya cara
sendiri menghapus yang mencoba bertahan.
——
Hari itu, di halte tua yang nyaris roboh, ia bertemu seorang gadis. Gadis itu duduk dengan
kamera rusak dan buku catatan lusuh yang penuh nama-nama tak selesai. “Kau juga takut
dilupakan, ya?” tanya gadis itu.
Wafi menatapnya. “Takut? Aku bahkan sudah lupa rasanya takut.”
Gadis itu tersenyum tipis. “Aku menulis nama orang-orang, biar nggak hilang. Kadang salah,
tapi setidaknya masih ada jejak.”
“Nama kamu siapa?” tanya Wafi
“Mayu, Setidaknya dulu begitu.”
Sejak hari itu, mereka sering berjalan bersama. Mayu memotret hal-hal kecil: papan usang,
kaca retak, daun yang jatuh di tangga.
“Setiap gambar adalah doa kecil agar dunia tidak hilang begitu saja.” Katanya
Kadang mereka duduk di taman kota. Mayu menulis di tangannya dengan spidol: “Yang
tertulis, bertahan sedikit lebih lama.”
Dan Wafi menatapnya dalam diam. Ia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa seperti mantra
penyembuh dunia yang sedang pingsan.
——
Suatu malam, kota padam. Lampu-lampu mati bersamaan, dan gelang ingatan semua
warga berhenti memunculkan nama. Dalam sekejap, seluruh kota berubah jadi lautan wajah
tanpa sebutan. Orang-orang berdiri dalam gelap, saling memandangi seperti makhluk yang
baru diciptakan tanpa naskah.
“Gelangku mati,” kata Mayu.
“Punyaku juga,” jawab Wafi.
“Kalau semua lupa, siapa yang akan tahu kita pernah ada?” tanya Mayu
“Mungkin bukan siapa-siapa, tapi sesuatu di dalam kita masih ingat, walau tak bisa disebut
namanya.” Kata Wafi
Dini terdiam, lalu mengambil spidol dari sakunya. Ia menulis di telapak tangannya sendiri:
“Wafi".
Lalu di telapak Wafi, ia tulis: “Mayu".
“Kalau kota menghapus nama kita, kulit kita yang akan menyimpannya.” Ucap Mayu.
Malam itu mereka duduk di atap gedung, menatap kota yang tenggelam dalam kabut hitam.
Tak ada bintang, tak ada suara. Hanya dua manusia yang menolak jadi tanpa nama,
menolak dilahap oleh lupa yang kini jadi hukum alam.
——
Hari-hari berikutnya, matahari berhenti muncul, tapi tak ada yang kaget. Kota telah
kehilangan konsep pagi dan malam. Jam masih berdetak, tapi waktu sudah tidak tahu ke
mana harus berjalan. Wafi terbangun di taman, embun menempel di bajunya. Dini duduk di
samping, menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kering. Lingkaran, garis,
nama-nama, semuanya tak terbaca.
“Mayu, Apakah kau masih ingat siapa aku?” panggil Wafi
Mayu menatapnya lama. Lalu menggeleng. “Aku tak tahu namamu. Tapi aku tahu aku tak
ingin kehilanganmu.”
Wafi terdiam. Lupa bukan hanya kehilangan nama, pikirnya. Lupa adalah kehilangan makna.
Dan tanpa makna, bahkan cinta hanya jadi refleks biologis yang tak tahu tujuannya
Malam itu, Wafi berjalan menuju Menara Arsip, tempat terakhir yang katanya menyimpan
sistem ingatan kota. Tangga berdebu, dinding penuh bekas tangan yang pernah mencoba
menulis sesuatu sebelum menyerah. Di puncak menara, sebuah mesin tua berdenyut pelan.
Di layar kecilnya muncul tulisan:
“SISTEM INGATAN KOTA: GAGAL.” Dua pilihan muncul di bawahnya:
1. Pulihkan sistem
2. Hapus seluruh data
Tapi ketika ia menyentuh tombol, layar menampilkan syarat tambahan: “Untuk memulihkan
sistem, satu entitas harus mengorbankan seluruh memorinya.”
Mayu memandang layar itu dengan wajah pucat. “Kalau seseorang mengorbankan
ingatannya, kota akan ingat lagi?”
Wafi mengangguk. “Tapi orang itu akan hilang dari semua kenangan, termasuk dirinya
sendiri.”
Hening. Hanya suara mesin tua yang nyaris mati.
“Mungkin ini caranya, Kota butuh seseorang yang rela hilang agar yang lain bisa mengenal
dirinya lagi.” Kata Wafi dengan pelan
Mayu menatapnya marah, sedih, tak percaya. “Kenapa selalu kamu yang harus jadi
penyelamat?”
“Karena aku yang paling takut lupa.”
“Kalau kau hilang, siapa yang akan kuingat?” tanya Mayu
“Kalau aku hilang, kau akan hidup di dunia yang mengenal namanya lagi. Itu cukup.” Ia
menatap Mayu untuk terakhir kali, dan menekan tombol Pulihkan sistem.
——
Cahaya putih menyelimuti kota. Nama-nama muncul di udara, di tembok, di langit. Semua
kembali: warna, suara, waktu. Kecuali satu hal: Wafi.
——
Beberapa hari kemudian, kota kembali berdenyut. Anak-anak menyebut nama orang tuanya,
guru memanggil murid, jam kembali punya arti. Tapi di taman di tepi sungai, ada satu kursi
kosong yang selalu dibiarkan tetap bersih. Setiap sore, Mayu datang ke sana. Membawa
kamera rusak dan buku catatan tua. Ia memotret bayangan di kursi itu. Kadang, ia merasa
ada seseorang duduk di situ, tapi ia tak tahu siapa.
Suatu hari, ia membuka halaman terakhir buku catatannya. Di sana ada tulisan samar,
nyaris hilang: “Nama bukan untuk dikenang, tapi untuk menemukan jalan pulang." Ia tidak tahu siapa yang menulisnya. Tapi setiap kali membacanya, dadanya terasa hangat,
seperti disentuh sesuatu yang tak punya wujud tapi masih hidup di dalam dirinya.
——
Bertahun-tahun kemudian, Mayu menjadi penjaga kecil Museum Ingatan Kota. Anak-anak
sering bertanya tentang gelang-gelang logam yang kini berdebu di etalase kaca. “Dulu ini
buat apa?”
“Untuk mengingat,” jawab Mayu sambil tersenyum. “Sebelum kita tahu bahwa hati manusia
lebih kuat dari mesin.”
Malam-malam sunyi, ia menatap pantulan wajahnya di jendela. Kadang, di balik kaca, ia
melihat bayangan seseorang yang berdiri dengan tidak jelas, tapi menenangkan.
Ia tersenyum kecil dan berbisik, “Aku tak tahu siapa kau, tapi terima kasih sudah
mengingatku.”
Angin malam berhembus, meniup tirai perlahan. Di kejauhan, lonceng kota berdentang
enam kali. Dunia berputar seperti biasa. Dan di atas kota yang kini terang, sesosok
bayangan berjalan di antara kabut, menyentuh dinding-dinding yang pernah kehilangan
namanya. Sebelum menghilang sepenuhnya, ia berbisik pada udara: “Aku adalah orang
yang menelan namaku sendiri agar kota ini bisa mengingat lagi.”
Lalu senyap. Hanya cahaya lembut yang tersisa, melingkari kota seperti ingatan yang
enggan benar-benar mati.
——Tamat——

Posting Komentar

0 Komentar