Kata Kakek | Juara 2 Cipta Cerpen

                             Karya: Bila Binti

Sekali merdeka tetap merdeka".entahlah kata kata yang tertulis disebuah bangunan
terbengkalai disamping jalan raya dikota seakan berputar diingatanku.aku masih ingat
tulisan itu, seakan baru melihatnya detik lalu padahal waktu sudah berjalan satu jam.
Aku tidak tahu atas dasar apa aku mengingat itu,apa karena identik dengan negaraku?
Tapi setiap kali teringat , ada sebuah gejolak aneh yang menggangu hatiku. Darahku
berdesir, aku merasakan keanehan disana.
Aku jadi teringat dengan cerita-cerita bersejarah kakekku. Beliau juga pernah
mengalaminya, ktanya itu hal yang wajar, sebab kita ingin merasakan kebebasan, dan
merdeka adalah kata lain yang sama artinya dengan kebebasan.
Dulu ketika masa mudanya terjadi, sekitar tahun 1945 an, kakekku ikut dalam melawan
jepang. Bahkan sebelum jepang, pada masa koloni Belanda, beliau sudah ikut dalam
peperangan mengusir penjajah.
Kakek ikut berjuang dengan cara bergerilya bersama teman temannya. Keluar masuk desa
secara diam diam, menembus hutan , lewati perbatasan wilayah, tidak pulang berminggu
Minggu, dan hanya mengandalkan logistik seadanya, serta bambu runcing yang telah
dibuat.
Awalnya, kakek ikut bergerilya hanya dengan tujuan mencari ayahnya. Tak pernah pulang
sampai membuat kakek menangis, begitu khawatir terhadap pahlawan hidupnya itu.
Kerinduan kakek tak bisa diukur oleh apapun didunia, kala itu.
Perih kata kakek. Beliau harus melapangkan dada seluasnya untuk ayahnya yang
dikabarkan gugur melawan jepang, tepat sekali waktu memberikan kabar, kakekku sedang
berusaha mencari ayahnya.
Sejak saat itu, kakek tersadar. Beliau salah memaknai perang perang serta gerilyanya
sebelumnya. Kakekku memutuskan untuk berjuang demi negeri, demi indonesia!
Tak sampai disitu, kakekku semakin aktif dalam usahanya mendapatkan kemerdekaan.
Hatinya semakin kukuh dengan menyematkan kata merdeka didadanya, begitu bangga
menjadi salah satu gerilyawan yang langsung bisa berkontak senjata dengan Nippon.
Ngomong ngomong, bambu runcing yang pernah kakek gunakan, sampai saat ini, sampai
beliau memiliki cucu, masih tersimpan rapi dan terawat dikamar kakek. Sengaja ditaruh
disana, alasannya sederhana, kata beliau, bambu itu bersejarah.
Aku senang mendengar kala kakek bercerita tentang kisah masa mudanya. Yang diwarnai
dengan datangnya penjajah baru menggantikan penjajah lama, yang dihiasi oleh bom atom
dan granat yang hampir setiap hari menjadi temannya, yang sering bermain petak umpet
dengan Nippon yang membawa alat-alat senapan berpeluru.
Pernah sekali kakek nyaris kehilangan nyawa karena jepang. Ketika tengah memasak air
disamping kamp gerilyanya, dimalam hari, sebuah peluru melesat melewati samping daun
telinganya.
Zapp. Peluru itu berakhir dibatang sebuah pohon jati dihutan, meninggalkan lubang,dan
meninggalkan perasaan kaget disanubari kakek.
"Jon? kau tidak apa-apa?" Tanya personil lain gerilyanya, begitu takut. Kakek menggeleng
" tidak apa-apa, aku baik baik saja".
Kejadiannya begitu cepat lantas disusul teriakan-teriakan geram dari balik semak-semak.
Peluru- peluru lain menyusul, mendesak kapten putra untuk berteriak
sekencang-kencangnya," pergi!!!".
Kakek berlari, melompat, menebas semak-semak luar. Tak ingin berhenti berlari, keadaan
kacau, perang kali ini tidak seimbang, pasukan gerilya kakek tidak punya persiapan apapun." Kita tidak punya persiapan apa apa sekarang, jepang menggelar serangan yang cerdik,
kita tunggu hingga kondisi membaik!" Ucap kapten putra yang berhasil menyembunyikan
anak anak buahnya masuk kesebuah lubang ditenagh hutan perbatasan.
" Hanya tujuh orang jepang kapten, tapi semua membawa alat-alat senapan dan beberapa
bom jagung " kata-kata kawan kakek yang ditugaskan memantau kondisi luar membuat
perasaan kakek gundah seketika.
" Saya tahu kalian takut, tapi bukankah kalian sudah terbiasa melawan jepang? Ini bukan
yang kali pertama" jawab kapten putra, membuat perasaan kakek membaik, seolah mengerti
perasaannya.
Ya, ini bukan yang pertama kali. Kakek sudah sering melawan jepang, namun mungkin
karena tidak punya perbekalan senjata dan keadaan benar-benar buruk, itulah yang
membuat pasukan kakek gemetar.
Dan siklus waktu berjalan. Siapa sangka kakek berhasil pulang kembali kedesa, tepat pada
hari kemerdekaan, 17 Agustus 1945, hari dimana indonesia benar-benar merdeka dengan
usaha sendiri.
Kakek sering mengajari diriku,tentang pesan IR.soekarno mengenai kemerdekaan. Pesan
itu adalah jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kata kakek sejarah itu penting,
sangat berguna.
"Sejarah itu penting bagi manusia nduk. Tiap perjalanan kehidupan, baik yang terjadi kini
maupun sebelum nya adalah bagian dari sejarah. Pak Soekarno mengajarkan kepada kita,
bahwa kita tidak tidak boleh melupakan sejarah begitu saja. Melupakan jasa dan perjuangan
pahlawan-pahlawan nasional, yang rela gugur demi kemerdekaan NKRI ini" kira kira, itulah
yang dapat kusimpulkan dari setiap nasihat nasihat kakek.
Tiap kata ,tiap ucapan, semua yang keluar kala kakek bercerita, bagiku, adalah kenangan
sejarah. Betapa pahit, betapa perihnya kehidupan kala didiami oleh koloni Belanda maupun
jepang, keduanya benar-benar berhasil memengaruhi segala bidang kehidupan rakyat
Indonesia.
Aku bangga, menjadi rakyat Indonesia. Aku bangga, mempunyai kakek yang mampu
melewati sulitnya kehidupan prakemerdekaan. Aku bangga menjadi generasi masa kini dan
masa depan, yang akan menjadi penanggung jawab negara ini, yang akan mengatur alur
negara Indonesia.
Selain pesan IR.soekarno, pesan lain yang membekas dalam memoriku adalah pesan
yang tersirat dalam buku 'habis gelap terbitlah terang' yang diciptakan oleh Raden Ajeng
Kartini, wanita tangguh yang menjadikan nasip wanita Indonesia jauh lebih baik.
"Berterima kasihlah kepada tuhan dan para pahlawan NKRI, tanpa mereka, Indonesia tidak
akan bisa mendapatkan kemerdekaan, kemerdekaan harus dijaga, kemerdekaan harus
dipertahankan. Jadilah generasi yang bertanggung jawab nduk, jadilah wanita yang
berpendidikan seperti RA.kartini. Masa depan Indonesia, ada pada tangan generasi
sepertimu. Memang bukan hal yang mudah dilakukan, tapi setidaknya, kamu berusaha
untuk itu" pesan dari kakek yang benar-benar membuatku kagum sekaligus terharu.
Iya kakek, kan kuusahakn ucapanmu itu, akan kubuktikan bahwa Indonesia akan merdeka
selamanya, abadi dalam sejarah dunia. Sekali merdeka tetap merdeka! Merdeka! Merdeka!.
tamat

Posting Komentar

0 Komentar