Juara 1 Lomba menulis CERPEN – oleh Izzati Putri Kuncoro
Desain cover by Islamic Study Club
Sungai, waktu, dan Aurora
“Peraih nilai tertingi di kelas 12 untuk semester 5 adalah...”
Murid Murid SMA di lapangan upacara pagi itu pun semuanya berseru seru “Bagas pak..”, “Ralea pak...” “Aurora pak...” mereka semua bersemangat ada yang menybutkan namanya sendiri, ada yang menyebutkan nama temannya. Pak Tono yang berdiri di depan sebagai Wakil Kepala Akademik sekaligus yang mengumumkan pun tertawa, “Sabar anak anak , mohon tenang dulu.. iya tenang akan bapak sebutkan namanya habis ini..” tidak lupa dengan iringan tawa renyah khas Pak Tono, ya pak Tono dikenal sebagai guru paling bersahabat di SMA ini, tetapi kalau sudah menyangkut nilai Pak Tono bisa seketika berubah 180 derajat, tapi kami sebagai murid kelas 12 tetap menyayangi Pak Tono. “baik anak anak akan bapak sebutkan ya di semester 5 ini ada tiga orang yang menjadi peraih nilai tertinggi ya anak-anak, 1 anak sebagai peraih nilai tertinggi pertama, lalu 2 anak selanjutnya ini meraih nilai rata rata yang sama ya..”. Anak-anak semakin ramai, tidak sabar “ Iya pak.. gak apa apa.. cepetan pak kita uda deg deg an nih pak..” Pak Tono tertawa “oke siap-siap ya... oke dua peraih nilai rata- rata yang sama adalah.. “ Lapangan yang awalnya tadi seperti replika Pasar Minggu, seketika hening, sepi, seperti jalanan disekitar area pemakaman umum. “Stevia Pauline dan Rahardika Arsyad dengan rerata nilai 94,5, mari kita beri tepuk tangan anak-anak” Semua murid langsung ricuh, bertepuk tangan “wah keren Rahardika.. walaupun dia semester lalu jadi anak paling sering ih di pangil Bu Tatik, apa jangan-jangan dia gak murni tuh hasilnya” Rechia teman yang berdiri disebelah ku memulai topik gosip biasanya dengan teman-teman disekitarku, aku hanya tersenyum “ ah iya bisa juga tu..” aku tersenyum dan membalas seadanya. Rechia melanjutkan mengobrol, aku? hanya bergabung saja mendengarkan. Saat ini aku diam saja karena aku khawatir dengan hasil ku di semester 5 ini, aku tidak ingin membuat mama kecewa dan hanya menganggapku sebagai beban orang tua, Rechia dan Arleta yang menyadari kalau aku dari awal upacara sampai sekarang hanya diam saja langsung menepuk punggunggku “sudah lah Ra.. santai aja kamu pasti dapet kok Ra..” Aku hanya mengangguk, ya mereka faham, karena mereka sudah lama berteman denganku, mungkin aku tidak bisa menyebutnya sebagai “teman” karena aku sebenarnya tidak pernah memperkenalkan diriku ke mereka, tapi saat itu kita butuh untuk membentuk kelompok pas kelas 10, dan aku saat itu sebangku dengan dia, jadi semua ini dimulai pada saat itu. “Baik anak-anak ini yang kalian tunggu tunggu ya.. saya akan sebutkan nama murid peraih nilai rerata tertinggi kelas 12 di semester 5 ini oke... harap tenang nak..”Pak Tono sekali lagi berhasil menenangkan kami para murid-murid yang amat sangat ricuh “ Oke.. sekali lagi untuk murid peraih rerata terbaik adalah... langsung saja ya nak.. kasihan adik adik kelas mu harus melaksanakan KBM” Semua murid mengangguk tidak sabaran “ Oke peraihnya adalah.... Aurora Vyanne dari kelas IPA-2 dengan rerata nilai 97,0 mari beri tepuk tangannya anak-anak, Aurora silahkan maju kedepan sini nak “ Tanpa disuruh pun teman-temanku sudah bertepuk tangan Rechia,Greta,dan Arleta mendorong ku untuk segera maju ke depan “ Kan bener Ra, pasti dapet gak mungkin ga dapet tauk” Aku saat ini tersenyum lebar ya, aku amat sangat lega usahaku berhasil, berhasil untuk bertahan di kelas IPA dan bisa menjadi yang terbaik. Aku berjalan menuju Pak Tono lalu pak beliau menyerahkan seperti plakat dengan ukiran namaku dan juga raihan nilaiku.
Aku bangga, kepada diriku sendiri karena aku bisa meraih target yang mama tetapkan untukku, terimakasih dan selamat untuk diriku aku menyelamati diriku sendiri di dalam hati. Sesi berfoto bersama telah usai aku segera kembali bergabung ke barisan awal bersama teman teman ku, seperti yang ku duga mereka langsung mencari tau tentang plakat yang baru saja ku terima. Aku tetap terdiam dikelilingi dengan senyum sumringah dan juga tawa bahagia mungkin, aku tidak tahu apakah itu asli atau tidak,tetapi mereka merangkul ku dengan bangga. Pak Tono menutup acara upacara Senin hari ini dengan pesan singkat yang membuat ku tersadar sebentar lagi kami bukan lagi sebagai anak yang memakai seragam putih abu-abu. “Anak-anak bapak yang bapak selalu sayangi bapak beri pesan khususnya untuk murid kelas 12 ya nak..mulai hari ini kalian memasuki semester 6, jadi bapak harap kalian menyiapkan Perguruan tinggi yang kalian ingin raih ya.. pastikan itu sesuai dengan bakat dan juga kemampuan kalian ya.. untuk konsultasi akademik saya akan selalu buka untuk semua murid kelas 12, untuk murid kelas 10 dan 11 untuk satu semester ini saya serahkan ke wali kelas masing masing ya.. Terimakasih anak-anak saranghae “ Pak Tono mengakhiri dengan frasa yang saat ini sering digunakan anak-anak jaman Now, semua murid di lapangan tertawa khususnya kelas 12 yang sudah lebih tua dari yang lainnya, berani membalas perkataan Pak Tono dengan semangat entah laki atau perempuan membalas dengan semangat “ saranghae juga oppa mwuah hahaha” Pak Tono dan guru lainnya tertawa. “Oke saya tutup silahkan kembali ke kelas masing masing ya..”. Murid murid segera ke kelas masing masing. Aku menuju ke kelas bergandengan dengan Rechia dan Arleta. Mereka sedang membicarakan rencana pesta ulang tahun Josephine ke-18 akhir minggu ini, aku hanya mendengarkan terkadang menanggapi dengan tawa kecil atau sebuah pertanyaan yang menurutku itu sebenarnya tidak penting, toh sebuah obrolan pertemanan memang selalu butuh basi-basi kan ? tidak ada ruginya juga untukku. Sesampai di kelas aku menuju tempat dudukku yang bertempat di pojok belakang dekat jendela, wah ini benar-benar tempat terbaik menurutku.
Aku yang sedang melamun kan hal hal acak sembari menatap adik adik OSIS yang sedang merapikan perlengkapan upacara tadi tiba-tiba terkejut karena tepukan Rechia “ Ra.. sadar Ra.. jangan ngelamun terus kamu.. “ aku tersenyum kecut “ Kenapa Cha.. ada apa sori hehe” Rechia geleng-geleng dengan tingkah ku “ Kamu hari Minggu ikut gak ke pesta si Josephine enak loh Ra di hotel gak panas” aku berfikir sebentar “ Keknya aku gak ikut deh Cha, tapi aku ntar nitip kado aja ya “ Rechia yang sudah hafal sama kebiasaanku pun menggeleng “idihh kebiasaan jangan belajar mulu kali Ra.. istirahat kamu uda dapet penghargaan kayak gini butuh belajar apalagi sii ?” aku tertawa menggeleng “apaan si Cha,, gua hoki bukan pinter” sekeliling ku lagsung tertawa dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka, di dalam hati aku menenangkan diriku dengan berkata di dalam hati untuk diri sendiri “Sudah Ra.. gak usah gak apa ikut kata mama aja temen itu ga ada yang abadi, uda kmu fokus aja sama kuliah inget kata mama, mama masih pengen banget kamu jadi dokter, raih cita cita mama, ikutin keinginan mama, udah ga apa Ra... kebahagiaan mama mu tanggung jawab mu.”Miris bukan ? , aku yang hampir melanjutkan lamunanku digagalkan oleh kedatangan Bu Marni, guru Kimia ku. Suasana kelas yang awalnya riuh rendah, seketika menjadi hening, mereka semua bergegas ke tempat duduk masing-masing, ada yang sibuk mengambil buku di tas, mengeluarkan tempat pensil, ada juga Rio anak kelas 12 IPA-2 yang terkenal, terkenal karena dia tidak pernah membawa apapun ke sekolah,hari ini dia menoreh sejarah baru, Rio hari ini membawa buku mata pelajaran lengkap untuk hari ini dan Stationary dispenser lengkap dengan isinya. Aku yang biasanya tidak peduli dengan hal semacam itu, ikut kaget karena semua anak di kelas menoleh ke tempat duduk Rio yang duduk di sebelahku. “Wih gilak Rio... kamu kenapa dah ?? kesambet apa O?” Rechia yang tidak sabaran langsung berteriak. Anak-anak langsung ramai berbondong bondong menanyai Rio, Bu Marni yang sudah di depan kelas juga ikut tersenyum “ Anak-anak jangan kayak gitu, ini berarti Rio sudah ada niatan untuk belajar, untuk persiapan masuk perguruan tinggi, kalian juga jangan mau kalah, kalian juga harus menyiapkan dari sekarang, sudah jangan ganggu Rio lagi,ayo kita mulai pelajaran di semester baru ini, sekaligus menjadi semester terakhir kalian di jenjang sekolah menengah “ Bu Marni menyudahi aksi drama mendadak di kelas dan segera memulai pelajaran Kimia.
“Ting Tong Ting Tong.. Waktu pelajaran sudah berakhir”
Jam sudah menunjukkan pukul 14.45 bel yang sudah dinanti-nanti oleh siapapun di sekolah ini akhirnya berbunyi, Pak Ardan guru PAI ku hari ini segera mengakhiri kegiatan belajar mengajar hari ini, dengan doa dan juga salam, Tanpa di aba-aba seluruh teman-teman ku segera meninggalkan kelas secepatnya. Dari yang kudengar-dengar tadi dari Arleta, sekarang hampir separuh dari teman-teman di angkatanku mengambil kelas tambahan di bimbel pilihan mereka masing-masing, jadi semuanya segera melakukan rutinitas masing-masing. Aku berjalan sendirian, tiba-tiba gadget ku bergetar, tanda ada yang menelfon, Oh ternyata Pak Budi supir pribadiku, “iya pak ? saya segera ke depan kok pak “ aku segera mematikan dan berlari ke gerbang depan, Pak Budi dengan senyumannya khas bapaknya melambaikan tangan ke arah ku dan pamit ke pengendara mobil lainnya. Aku segera bergegas naik ke mobil, “Mau ke mana ini Ra ? “ Pak Budi bertanya kepadaku, “ eh.. ke kafe aja pak yang dekat rumah itu pak Sta*****s aja pak” jawabku “Bapak bawain laptop saya kan pak sama buku latihan saya?” tanyaku ke Pak Budi “oh Iya dong Ra.. bapak udah bawain semuanya.. ATM juga uda ada di dompet kamu, tadi dimasukin sama kakak kamu” jawab pak Budi sumringah “Oh oke pak tengkyuu” jawabku sembari mengangkat kedua jempol tanganku. Ketika aku sedang asik memperhatikan jalan yang mulai basah karena langit hari ini mulai melepaskan tangisan nya..HP ku mulai berbunyi, setelah kulihat oh ternyata dari mama aku segera mengangkat “ iya ma ada apa ? “ mama segera menyampaikan pesannya cukup amat cukup malah singkat, padat, dan amat jelas, aku hanya mendengarkan sekali-sekali bergumam “hmm.. iya ma aku gak langsung pulang kok, iya siap” mama langsung menutup telfonnya. Aku mendesah, menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali. Pak Budi yang menyadari kalau ada yang ganjil langsung bertanya “ Ra, kamu gak apa, tho ? ini tetep ke kafe kan ? “ Aku mengangguk kecil, Pak Budi pun menjawab “oke Ra, Ini sudah mau sampai.. siap-siap ya, ini mau dijemput jam berapa ? apa mau seperti biasa ? “ aku berhenti sebentar dari kesibukanku untuk bersiap-siap turun, berfikir “ Ehm..jam 7 an aja pak, banyak yang mau Rora kerjain..” Pak Budi kaget awalnya, tapi Pak Budi langsung mengangguk faham “Oke nanti Pak Budi jemput hati-hati ya Ra..” aku mengangguk sambil membawa tas sekolah dan tas laptop ku turun dari mobil dan berjalan memasuki salah satu kawasan perbelanjaan besar di kota ku dan langsung menuju kafe yang biasanya aku datangi, saking seringnya aku berkunjung kesini, bartender kafe ini sampai hafal namaku dan menu yang biasa ku pesan. Aku masuk dan menyapa bartender kafe tersebut, lalu langsung menuju ke tempat favorit ku, pojok dekat jendela kafe, dan mulai mengerjakan tugas yang harus aku selesaikan.
“ Atas nama Aurora.. bisa diambil pesanannya..” Aku yang mendengar namaku dipanggil, segera menuju ke tempat pengambilan pesananku, sekaligus membayar pesananku. “Ra..lama gak ketemu..liburan kemana aja?” Kak Sisca bartender hari ini menyapaku “Oh aku gak kemana-mana kak, di rumah aja, jaga rumah soalnya mama,papa, sama adek lagi ke luar negeri nyariin sekolah buat adek..” Kak Sisca mengangguk “Iya udah,semangat belajarnya, jangan capek-capek ntar kalau mau pesen lagi bilang aja ya. ga usah malu “ Kak Sisca mengakhiri obrolan singkat ini karena ada pelanggan baru yang sudah mengantri dibelakangku. Aku tersenyum dan membawa pesananku ke tempat awalku. Mulai membuka laptop dan mengeluarkan buku pelajaranku. Aku menatap keluar jendela,wah.. langit benar-benar bersedih hari ini.. aku membatin, untunglah ternyata yang menyembunyikan banyak derita dan kesedihan tidak hanya aku. Ah sudahlah aku menyudahi lamunanku dan segera mengerjakan buku soal latihan tes masuk perkuliahan, asal kalian tahu, ini buku latihan masuk perguruan tinggi ku yang ke 5, keren bukan, Mama menyuruhku untuk menyelesaikan 10 buku yang sudah mama dapatkan dari anak teman-temannya, aku tidak tahu apapun, intinya aku mengerjakan apapun yang mamaku suruh. Di sela-sela aku mengerjakan soal yang amat sangat rumit ini, aku meminum minuman pesananku tadi sembari melihat pemandangan keluar jendela, wah hujan turun semakin deras, aku melepaskan headset ku dan mulai menikmati suara hujan dari dalam gedung ini, meskipun terdengar samar, tetapi aku tetap bisa menikmati. Aku melihat pemandangan di luar jendela, kulihat ada bapak-bapak yang berlari kewalahan untuk menghindari hujan dan memakai tas kerjanya untuk melindungi kepalanya, ada para pedagang kaki lima yang mulai mengembangkan payung warna-warninya, dan ada satu pemandangan yang paling menarik perhatianku, yaitu pemandangan ibu yang membawa payung biru tuanya dia sedang memayungi anak laki-lakinya yang membawa tas ransel kecil berwarna merah yang sedang memegang erat piala yang menurutku itu sangat besar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, Ibu itu dengan semangat melindungi anaknya dan segera memberi tanda untuk menghentikan sebuah angkutan umum berwarna biru, angkutan umum itu segera menepi setelah menerima simbol dari ibu itu, ibu itu mendahulukan anaknya untuk naik dan merelakan dirinya untuk kehujanan demi anaknya yang berprestasi itu. Hem.. tunggu fikiran apa ini ? tunggu .. aku merasa ada yang salah dengan jalan pikiranku, ah sudahlah Ra, itu tidak benar, ibu itu mendahulukan anaknya karena anak itu anaknya, dia berkorban mati-matian mengandungnya selama 9 bulan, menjaga dan selalu menyayanginya. Dia melakukan itu demi keselamatan anaknya. Aku menggeleng-nggelengkan kepalaku, karena merasa ada yang tidak beres, lalu melanjutkan untuk menyelesaikan berlembar-lembar soal di hadapanku.
Sayang, pikiranku kali ini tidak bisa lagi diajak untuk berkompromi, sejak kejadian tadi, aku tidak bisa lagi untuk berkonsentrasi. Kenapa? kenapa saat ini aku seperti ini ?. Ah sudahlah aku lelah,aku segera menutup buku tebal dihadapanku, lalu ku melihat jam tangan pemberian ayah 2 tahun yang lalu, jarum pendek menunjuk angka 5 dan jarum panjang mengarah ke angka 1, ah baru pukul 17.10, kenapa aku sudah lelah ?,tanpa berfikir panjang aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Aku menyeruput minumanku sambil memakan hidangan ringan pesanan ku. Aku melihat pemandangan di luar sana, wah hujan sudah agak reda, tetapi genangan air berwarna coklat yang tersisa. Para pelajar mungkin mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama, mereka berbondong-bondong menepi ketika ada mobil yang sangat cepat melintas disamping mereka, melewati genangan air tepat disamping mereka, “splashhh ...” salah satu teman meeka pun ada yang menjadi tumbalnya, aku hampir tertawa tapi gagal karena HP ku bergetar, tanda ada yang menelfon. Setelah kulihat, oh ternyata mama, “Iya ma ? Rora masih di kafe kayak biasanya ma..” Mama langsung menjawab “ kamu ini di kafe terus, mulai besok kamu di rumah aja, mama udah pesenin kamu guru privat, mau gak mau Rora harus les ya.. kamu anak perempuan mama satu-satunya kamu harus jadi yang terbaik ya nak.” Aku tertegun,belum sempat mengatakan apapun, mengucapkan salam saja belum.Aku refleks melempar HP ku ke meja di hadapanku, untung tidak ada orang yang menoleh. Aku kesal, hampir saja menangis, aku menganggap belajar di kafe seperti sebelumnya setelah pulang sekolah itu seperti waktu untuk diriku sendiri, dimana aku punya waktu untuk mengurus diriku sendiri, melakukan sesuatu yang aku mau,meskipun memang banyak waktu yang kupergunakan di kafe ini adalah belajar, tapi aku menikmatinya, aku bisa bertemu dengan banyak orang, bisa memperhatikan gerak-gerik banyak orang dan akhirnya bisa menjadi hiburan dan terapi gratis untuk diriku sendiri. Tetapi orang yang sangat kusayangi itu sendiri yang menarik semuanya, entahlah sampai kapan aku bisa bertahan, kalau kalian bertanya apa aku marah, aku jawab tentu tidak. Karena dia ibuku tapi aku kesal karena orang yang “sangat” menyayangiku tidak memahamiku dan juga tidak memiliki waktu untuk mendengarkanku. Aku mulai terbawa oleh lamunanku dan juga sederet pikiran-pikiran lainnya. Hingga muncul sebuah kalimat “coba saja dari dulu aku mencoba untuk memberitahu mama apa yang aku inginkan ketika sudah besar nanti, apa yang aku sukai dan sebaliknya”, dari awal aku duduk di bangku SMA selalu saja ada fikiran seperti ini, tetapi aku berusaha menyingkirkannya jau-jauh, tetapi mungkin ini batasnya aku sudah mulai lelah dan muak. Mungkin kalian penasaran, apa memang yang terjadi di masa lalu?, kenapa aku menyesal ?. Tenang, kalian akan kuberi tahu, dan ambillah pelajaran sebanyak mungkin.
Juli,2007
“Rora.. ayo nak ikut mama” Pagi itu aku ingat sekali, Hari senin salah satu hari di bulan Juli, biasanya papa akan mengantarkanku ke TK yang berdekatan dengan tempat kerja papa, tapi karena papa hari itu lembur, jadinya pagi itu mama yang bertugas mengantarkanku ke TK. Kak Rio yang saat itu sudah kelas 6 SD juga sudah siap juga untuk berangkat sekolah bersama, tetapi sekolah kak Rio berlawanan arah dengan sekolahku, biasanya papa mengantar kak Rio terlebih dahulu, baru mengantarkanku ke sekolah. Pagi itu tidak ada yang aneh, tetapi mama bawaan mama terlihat lebih repot dari biasanya, mama membawa banyak map dan juga tas kecil berwarna hitam. “Ayo.. Rio..Rora kita berangkat..” aku berlari menuju garasi dan segera naik ke mobil.Mama menjalankan mobilnya Kak Rio duduk di depan di samping mama, tapi anehnya mama menuju ke sekolah ku terlebih dahulu, Kak Rio langsung bertanya ke mama “ loh ma, gak ke sekolah kakak dulu ?” mama menggeleng “gak kak, kita cuman bentar banget kok ke sekolah adek” Kak Rio yang kebingungan pun langsung duduk, terdiam dan memilih untuk melanjutkan untuk memperhatikan jalan. Sesampainya di depan TK ku, aku yang bersiap untuk turun, mama langsung mencegah ku “Loh Rora gak usah turun, mama cuman mau ngasih ini kok “ Ucap mama seraya menunjukkan map berwarna biru tua.”Hah, kenapa ma? kan Rora sekolahnya disini ?” Mama pun menjawab “ Gak, Rora mulai besok sekolahnya udah gak disini, Rora bentar lagi punya sekolah baru..” Aku terdiam lalu bersorak “yeiyy Rora punya sekolah baru...” Aku tidak merasa sedih sedikitpun, karena memang tidak ada teman yang ku tinggalkan. Teman? apa itu teman, aku tidak mempunyai teman, karena dari aku sekolah di kelompok bermain, mama selalu melarangku untuk terikat di dunia pertemanan, atau apalah itu namanya. Mama mengajarkanku untuk tidak terikat dengan siapapun. Sejak itu pun aku memilih tidak memiliki teman.
Tidak sampai 10 menit, mama kembali dari TK ku,di mobil aku mengobrol dengan kakakku “Kak, mama masukin aku ke TK mana ya kak?, jangan-jangan mama nyariin Rora TK yang ada bioskop nya ?” Kak Rio pun menjawab “ ya gak lah dek, mana ada TK ada bioskop nya, ya malah kamu ntar yang keenakan haha”. Mama masuk ke mobil, aku tidak sabar langsung bertanya ke mama “ Ma, emang Rora mau mama sekolahin di mana si ma? Rora penasaran banget ...” Mama menjawab dengan santai “Rora mulai besok sekolah bareng kakak”. Sesaat kami semua terdiam mencerna kalimat mama “Hah? bukannya Rora baru 5 tahun ya ma? kok udah kelas 1 aja ma” Kak Rio refleks bertanya. “Iya kan Rora bisa akselerasi kak.. hari ini Rora fitting seragam,mulai sekolahnya besok. Aku masih terdiam “Ma, berarti hari ini aku ga masuk dong ?” aku bertanya dengan kepolosanku “ Gak Ra, hari ini kita jalan-jalan dulu karena anak mama udah keren banget” Aku berteriak kegirangan “Wah yeiyy.. ke mall ya ma beli es krim” aku sangat senang, saat itu.Garis bawahi saat itu. Aku belum mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Aku salah, kenapa aku tidak berusaha memahami semua ini dari dulu, memang aku saat itu belum bisa memahami hal serumit ini, tetapi kenapa aku tidak memberhentikannya ketika aku duduk di bangku SMP ?.
Kejadian selanjutnya yang dulu mebuatku sangat percaya kalau menurut mama pertemanan itu bukanlah segalanya adalah ini terjadi saat aku duduk di bangku SMP,saat itu aku masuk di salah satu sekolah terbaik di kota ku dan juga termasuk top 10 sekolah terbaik di negara ini. Semua ini mulai terjadi ketika aku kelas 2 SMP alias kelas 8, aku sangat ingat ketika itu guru bimbingan akademik ku memnggilku dan beberapa temanku untuk berdiskusi mengenai lomba yang akan datang 2 bulan lagi, lomba ini punya 2 pilihan ada yang berkelompok dan juga individu, kami di beri waktu sehari untuk membicarakan dengan orang tua di rumah masing-masing ketika pulang sekolah. Kami semua sangat tertarik, di ruangan itu ada 2 orang yang kukenal Lesta dan Anjani, kami akhirnya bersepakat untuk berkelompok karena kebetulan orang yang dibutuhkan dalam 1 tim adalah 3 orang, tetapi guru pembimbing akademik kami menyarankan untuk berdiskusi dulu dengan orang tua masing-masing. Aku saat itu sangat tidak sabar untuk segera pulang dan menyampaikan ke mama dan papa, tetapi sesampai di rumah mama langsung menolak mentah-mentah rencana ku untuk lomba berkelompok bersama Lesta dan Anjani, mama bilang “kalau kamu bisa melakukan semuaya sendiri, kenapa harus berkelompok ? “. Kata-kata itu benar-benar membekas di pikiranku. Sejak saat itu aku selalu berfikir “Apakah aku orang baik ? atau orang jahat ? memang semua orang memiliki jalan sendiri untuk menilai sikap setiap orang, tetapi aku tidak yakin dengan sikapku sendiri, aku terlalu mengalir seperti air di sungai yang sudah disipakan oleh mama ku, apakah itu baik ?”.
Dan hal ini terjadi lagi, di bangku sekolah menengah atasku. Aku ingin menyerah dengan cara memberontak segala alur yang telah disipkan oleh mamaku, tapi bagaimana ? bukan ini yang sebenarnya aku inginkan. Aku tidak ingin menjadi dokter atau arsitek, atau apapun anggapan sukses orang asia lainnya. Aku ingin menjadi aku sendiri. Menjalani mimpi yang sudah aku bendung sekian lama. Tapi sepertinya tidak akan pernah terwujud. Aku merasa terlalu cepat, anak umur 16 tahun yang lainnya masih menikmati masa dimana dia seperti penguasa sekolah di SMA, sedangkan aku sudah seperti remaja yang hampir kehilangan harapan, tertatih mencari sekolah lanjutan, bingung memilih untuk mengikuti mimpi sendiri atau menjadi air di sungai yang sudah mengetahui letak hilirnya. Jujur aku takut tersandung, karena semua ini berlalu terlalu cepat, aku merasa aku menaiki sebuah pesawat sedangkan yang lainnya dalam mode kereta berbahan bakar batu bara. Aku tahu, semua ini bisa dihentikan, tapi sayang sudah terlalu terlambat. Mau tidak mu aku harus menjadi air di sungai itu. Tetapi aku percaya aku bisa mengeluarkan sedikit demi sedikit mimpi yang sudah ku bendung.
Aku tersenyum menatap jendela, mataku berkaca-kaca karena melalui lamunan singkat ku ini aku baru saja menemukan titik temu rencana hidupku. Sesaat lamunan ku berhenti, HP ku berbunyi, karena mode getar nya baru saja ku nyalakan. Ternyata Pak Budi menelfonku, “iya pak, saya turun ke lobi pak “ aku terkejut segera merapikan semua bawaanku, tidak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul 7, Pak Budi ternyata tepat waktu, aku segera turun dan tidak lupa untuk pamit ke Kak Sisca, dan mengatakan ini hari terakhirku datang ke kafe ini karena mulai besok aku sudah memiliki rutinitas baru. Kami berpamitan dan saling memeluk “semangat belajarnya Ra.. istirahat kalau capek” Aku tersenyum “Oke kak siap.. makasih kak”aku segera turun ke lobi dan menemui Pak Budi.
____________________________________________
Hai guys... namaku Izzati Putri, kalian bisa panggil aku Sasa, saat ini aku berumur 17 tahun guys. Sekarang aku lagi baru saja akan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu pendidikan dokter di salah satu universitas di Malang. Sebelum ini aku bersekolah di SMP dan SMA Al Izzah Boarding School Batu, Hayoo kalian pada tau gak sekolah itu ? hehehe. Saat ini aku bertempat tinggal di Malang. Oh iya ini pengalaman pertama ku mengikuti lomba menulis cerita pendek kayak gini.. eits tapi dulu di SMP aku sempat mengikuti ekstrakurikuler Karya Tulis Ilmiah, tapi memang beda banget sih sama buat cerpen kayak gini, Jadi kalian harus baca cerita ini sampai habis ya guys.. karena ini karya pertama ku. Terima kasih semuanya. See you on top.Hope you all enjoy it. **~

2 Komentar
Menarik membacanya..penggambaran /deskripsi seolah saya ikut dalam kerumunan..anak2 SMA itu. Ada masukan kalimatnya panjang2... dan banyak berfrasa...
BalasHapusSuka sekali membaca nya. Lanjut berkarya ya... kalau pas lagi sumpek stress kuliah kedokteran..tuliskan saja kak. ... agar kita bs turut merasakan tingkat hectic nya...
BalasHapus