Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh sobat ISC..
Kali ini kami akan berbagi ilmu tentang kepenulisan. Hayyooo siapa ni di sini yang mau banget jadi penulis? Pasti banyak. Dan siapa sih yang enggak kenal penulis Tere Liye? Pasti kenal banget, kan? Pasti, karena karya tulisannya telah mendunia.
Nah.. kali ini kami mau berbagi tips kepenulisan ala Tere Liye. Ada empat tips menulis ala Tere Liye.
Di antara ke empat tips tersebut ada rumus pamungkas; jurus paling dahsyat yang menghasilkan puluhan novel tanpa meninggalkan kesibukannya sebagai akuntan.
Wah jadi makin kepo kan, apa aja ya tips-tipsnya?
Sebelum kami jawab, sobat-sobat ISC harus berkomitmen pada diri sendiri, bahwa akan mempraktekkan ilmunya. Kan gak lucu ya saat kalian lapar tapi cuma baca tentang aneka jenis makanan enak. Kan harus dicoba dulu makananya, itu hal yang terpenting. Heheh.
Maka begitu juga, jika sobat ISC, cuma baca ilmu kepenulisan doang tanpa dipraktekkan, maka jangan ngarep bisa jadi penulis ya… >-<
Nah, sekarang saatnya masuk ke tips menulis ala Tere Liye.
1. “Topik bisa apa saja, tapi penulis yang baik selalu menggunakan sudut pandang yang berbeda.”
“Inilah jurus pamungkas Tere Liye dalam menulis-nulis novelnya,” ucap Tere Liye saat menyampaikan tips ini di depan pelajar Jogja.
Penulis mampu menulis topik apapun, tapi tidak seperti kebanyakan orang sudut pandangnya.
Missal, sekarang silahkan teman-teman tulis sesuatu tentang “hitam”.
Orang kebanyakan akan menulisnya tentang : gelap, kelam, negative, malam dsb.
Padahal penulis harus berbeda!
Apa contoh yang di berikan TERE LIYE?
Ini dia :
Hitam selalu ketinggalan dari teman-temannya. Ke pasar, ia terlambat. Ke sekolah ia telat. Akhirnya pada hari itu ia memutuskan untuk tidak gabung dengan warna lain untuk selamanya. Maka sejak itulah pelangi tidak memiliki warna hitam.
Atau,
Seekor kuda lari di atas aspal hitam.ia melaju dengan kecepatan 50 km/jam. Kemudian satu jam setelah itu, sedan hitam menyusul dengan kecepatan 100 km/jam. Pada jam keberapa sedan hitam bisa mengejar kuda hitam?
Kenapa jadi soal MTK ? :D
Gak apa-apa. Intinya, penulis harus punya sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Inilah yang membuat karya seseorang menjadi tampak menarik. Yang mendapat perhatian lebih dari pembaca.
Andai kita jalan-jalan ke candi borobudor, dan ingin menuliskan tentang candi tersebut. Jangan lagi menulis hal yang sudah banyak dibahas seperti : sejarah candi, tokoh-tokoh dibalik candi dan semisalnya. Tapi cobalah kita tulis “Fenomena pengemis di candi borobudor”. Inilah sudut pandang yang baru.
Mulai sekarang sebagai penulis harus peka, jangan cuma peka ke dia yang gak peka-peka. Heheh.
Ada apa disekitar kita? Dan kita tulis dengan sudut pandang yang baru. Yang berbeda dari cara pandang orang kebanyakan.
2. “Penulis yang baik membutuhkab amunisi, tidak ada amunisi tidak menulis”.
“Berhentilah bermimpi menjadi penulis,” pesan Tere Liye, “kalau tidak ada amunisi di kepala kita”. Ini sebenarnya mirip perumpamaan sebuah teko. Apabila teko berisi air putih akan mengeluarkan air putih. Dan teko yang diisi kopi pun akan menuang kopi. Lalu, teko yang gak pernah diisi akan menuang apa? Tidak akan menuang apapun.
Begitulah seseorang. Mana mungkin menulis jika tidak punya amunisi.
Nah, yang menjadi pertanyaan; Kita mencari amunisinya kemana? Tere Liye menjawab dengan 3 hal, yaitu :
Pertama, membaca. “Satu paragraph yang kau tulis,” ujarnya “adalah setara dengan satu buku yang kau baca”.
“Saya sejak SD kelas 6 sudah menghabiskan ratusan buku. Sampai orang tua saya bingung. Mau jadi apa anak ini?” terang penulis rindu ini.
Kedua, banyak-banyak perjalanan. Dari perjalanan inilah seseorang mengamati yang kemudian ditulis dengan sudut pandang yang baru dan berbeda.
Ketiga, bertemu dengan orang-orang bijak. Datangilah orang-orang ahli yang sudah lama menggeluti bidangnya. Termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat. Dan siapa pun yang bisa digali ilmunya.
Nah, bagaimana dengan kita bosque? Baru nulis satu paragraf saja sudah mentok. Astaghfirullah…
3. “Kalimat pertama adalah mudah, gaya bahasa adalah kebiasaan, menyelesaikannya lebih gampang”
Rata-rata kendala calon penulis adalah susah mengawali tulisan. Bingung mau nulis apa dibagian pertama. Takut tidak bagus, atau jangan-jangan gak gaul. Intinya banyak mengalami kebimbangan diawal.
Tapi, Tere Liye menegaskan, “Kalimat pertama adalah mudah…”. Kok bisa ya?
Ternyata ini yang dilakukan penulis yang punya nama asli Darwis itu. Beliau menuliskan apa yang dirasakan, seperti contoh di bawah ini.
Nyalain laptop, trus nulis…
Saya sebenarnya tadi mau nulis untuk awalan novel. Tapi entah mengapa, saat laptop sudah terbuka bingung mau nulis apa. Hanya melihat kursor yang terus berkedip.
Serasa mentok. Buntu. Bener-bener bingung. Tapi ya sudah mau gimana lagi. Mungkin selama ini kurang ngopi. Hehe.
Serius, tadi sudah banyak ide di kepala. Mulai dari nama-nama tokohnya, latar tempatnya hingga alur cerita. Tapi sekarang, entah sembunyi kemana mereka itu.
Inilah maksud dari “Kalimat pertama mudah…”. Tulis saja apapun yang ada di kepala.
Gak usah ngarep ideal. Kan ada tahap selanjutnya : edit.
Nah ini juga pernah dialami beliau. Awalnya sama, nulis apa aja yang ada di kepala. Kemudian mana yang gak bagus tinggal di blok, tekan del. Selesai. Tersisalah tulisan yang bagus.
“..gaya bahasa adalah kebiasaan…”
Maksudnya gimana?
Gini, kalau teman-teman baca tulisan orang pasti ngalir, lembut, dan runtut, bisa dipastikan orang tersebut terbiasa nulis. Jadi kalau kita jarang nulis, ya… jangan nagrep tata bahasanya enak. Jangan mimpi gaya bahasanya lembut. Karena memang gaya bahasa itu efek dari praktek. Perbaikan hari ke hari. Gak hanya teori. Gak cuma sekali.
“…menyelesaikan lebih gampang”.
Gimana nih?
Begini, kadang orang-orang bingung cerita mana yang tepat sebagai penutup. Kebanyakan mikir “bagus gak yah?” dsb.
Itu pula yang dialami Tere Liye. Beliau ingin banget melanjutkan novel “Hafalan Surat Delisa”, biar lebih wow lagi. Namun ternyata mentok. Ya sudah beliau cukupkan sampai disitu dengan kata “TAMAT”. Dan pembaca gak pernah protes; “Inikan belum selesai..”
Jadi sebenarnya menulis itu gampang. Tinggal tulis TAMAT.
4. “Kita bisa karena terbiasa: kuncinya latihan, latihan, latihan.”
Semua tips di atas akan tak berguna jika yang terakhir ini kita abaikan. Maka dari itu kita harus punya teknik khusus dalam latihan.
Apa nih programnya? Tenang, ini dia yang disarankan oleh Tere Liye. Catet ya…
“Programnya adalah nulis 1000 kata perhari selama 10 hari nonstop. Jika ada hari yang terlewat tanpa 1000 kata, besok mengulangi hitungannya menjadi hari pertama.”
Oh ya, nulisnya gak harus baik ya. Gak harus sesuai tata bahasa. Karena itu masa editing. Sekarang yang menjadi fokusan adalah nulis 1000 kata perhari. Apapun itu silahkan.
Sebelum kami akhiri, ijinkan kami menutup dengan pesan dari Tere Liye :
“Ada 2 waktu terbaik untuk menanam pohon; pertama, 20 tahun yang lalu. Dan yang kedua, hari ini. Jika waktu yang pertama belum bisa, pakailah waktu yang ke 2. Maka 20 tahun ke depan ia akan tumbuh besar.”
Oleh karena itu, tanamlah pohon kepenulisanmu hari ini juga!!!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber : 4 tips menulis ala Tere Liye by Madanai Training sewaktu seminar online.

0 Komentar